Bagian paling tidak menyenangkan dari mengalami hati yang patah adalah kehilangan rasa percaya.
Kehilangan insting untuk menemukan orang baik
karena sebelumnya bertemu orang yang sudah disayangi sepenuh hati tapi ternyata
sangat tega—jika tidak mau disebut jahat.
Kehilangan selera untuk mencintai siapa-siapa karena hati jadi mati rasa. Hati seolah membentuk mekanisme pertahanan diri yang begitu tinggi sampai tidak bisa melihat hal-hal kecil yang berpotensi menghangatkan karena takut terbakar sendiri.
Hati
menjadi sangat dingin—kalau tidak mau disebut kaku.
Hati bahkan
bisa menjadi sangat ekstrim—selalu skeptis pada cerita-cerita fiksi dari novel,
film, maupun series bergenre romantis—karena
sebelumnya sudah menemukan hal-hal manis pada seseorang tapi faktanya seseorang
itu jugalah yang menyebabkan segalanya jadi pahit.
Hati yang
sudah patah, butuh obat yang tepat untuk pulih. Sayangnya pada beberapa kasus,
obat yang baik hanyalah waktu. Membiarkan lukanya kering sendiri sampai sembuh
sendiri. Tapi tidak ada yang bisa memberitahu kapan waktunya benar-benar pulih,
dan apakah membiarkan waktu bergulir adalah hal yang tepat? Bagaimana kalau
justru makin parah? Bagaimana kalau infeksi?
Perkara
hati memang pelik.
Tapi, oke,
baiklah. Tidak perlu repot-repot memikirkan luka, toh, masing-masing orang
punya penawar masing-masing. Atau anggaplah tidak ada hati yang terluka hebat,
sehingga bisa sembuh cepat. Tapi pasti hati tetap membentuk benteng
perlindungan diri supaya tidak terluka lagi. Tetap kehilangan rasa percaya.
Tetap kehilangan insting untuk
menemukan orang baik karena sebelumnya sudah menyayangi sepenuh hati tapi
ujung-ujungnya dilukai.
Pasca hati
patah itu tidak ada yang menyenangkan. Bahkan ketika lukanya sudah sembuh. Aku
tahu betul rasanya, karena aku baru saja mengalaminya.
Karena kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar