Aku merayakan perpisahan sendirian. Lagi dan lagi. Aku tidak tahu pada perayaan perpisahan ke berapa aku malas menghitung karena hubungan ini selalu mengalami pasang dan surut. Saking seringnya, aku tidak pernah tahu kapan hubungan ini bersiap untuk pasang karena aku cuma ingat bagian surutnya. Kenapa begitu? Karena setiap hubungan kami surut bahkan sampai kering kerontang, rasanya menyakitkan. Mungkin seperti kehidupan bumi yang mengalami kemarau panjang hingga tandus dan haus.
Perpisahan
ini selalu aku rayakan sendirian karena sepertinya memang hanya aku yang
menganggap kami memiliki hubungan. Sehingga, yang merasakan sakit pun cuma aku.
Hanya aku yang merasakan sedih setiap melihat bekas-bekas menyenangkan saat
hubungan kami mengalami pasang. Dia… tidak menganggap itu menyenangkan. Dia…
tidak melihat itu sebagai sebuah hubungan. Tidak ada yang pantas dirayakan, pun
sepertinya tidak ada sakit yang dia rasakan.
Aku cuma
ingat di setiap perayaan perpisahan, aku pasti marah. Aku pasti mengutuk dia
dan berpikir bahwa dunia tidak adil. Aku pasti merasa jadi orang paling sakit
hati karena telah ditinggal, padahal sebelumnya juga tidak pernah benar-benar
ditemani.
Aku cuma
tahu rasanya marah. Aku cuma tahu rasanya dikhianati—yah, seandainya ini bisa
disebut sebagai pengkhianatan. Tapi marahku tidak mengubah apapun. Hubungan
kami tetap pasang dan surut. Tetap mengalami pertemuan yang membahagiakan, lalu
berpisah dan kesedihan pun melanda.
Tapi, tapi,
tapi, sebelum perpisahan ini dirayakan, aku sudah bertekad untuk mengatakan
apapun yang perlu aku katakan. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan sisa
perasaan yang membuatku ingin terus kembali padanya. Aku ingin benar-benar
tidak memiliki hubungan lagi dengannya. Aku ingin benar-benar melepas hubungan
yang sebenarnya tidak betul-betul aku genggam.
Aku ingin
merelakan hubungan yang selalu terombang-ambing ini karena aku merasa di antara
kami tidak ada yang pernah benar-benar sepakat untuk memiliki kapal yang kuat.
Aku tidak bisa berenang. Setiap kali hubungan kami pasang dan surut dalam
frekuensi yang teramat sering bagaikan ombak di laut, akulah yang pertama kali
akan tenggelam.
Padahal aku
ingin hidup. Walaupun aku harus berada di daratan dan tidak ke mana-mana.
Sekalipun aku memang bisa pergi, aku akan memilih pergi bersama orang yang
memastikan aku tidak akan oleng walaupun diterjang badai sekalipun. Bahkan bisa
jadi aku tidak akan ke mana-mana karena orang itu mengajakku menetap di
daratan. Yang tidak akan memintaku mengarungi hubungan pasang-surut yang
membingungkan.
Maka dari
itu, aku merayakan perpisahan ini. Sendirian.
Tidak
apa-apa dia tidak ikut merayakan perpisahan, toh dari awal dia tidak pernah
menganggap kami punya hubungan.
Mungkin
memang aku sendiri yang perlu berpisah dari harapan-harapan kosong yang selama
ini pernah mengembang. Mungkin memang aku sendiri yang perlu menjauh dari
hubungan ini. Mumpung sedang surut. Mumpung masih bisa menepi tanpa repot-repot
berenang.
Ya.
Aku akan
merayakan perpisahan ini dengan bahagia.
Meskipun
sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar