Mei 13, 2022

Merayakan Perpisahan


Aku merayakan perpisahan sendirian. Lagi dan lagi. Aku tidak tahu pada perayaan perpisahan ke berapa aku malas menghitung karena hubungan ini selalu mengalami pasang dan surut. Saking seringnya, aku tidak pernah tahu kapan hubungan ini bersiap untuk pasang karena aku cuma ingat bagian surutnya. Kenapa begitu? Karena setiap hubungan kami surut bahkan sampai kering kerontang, rasanya menyakitkan. Mungkin seperti kehidupan bumi yang mengalami kemarau panjang hingga tandus dan haus.

Perpisahan ini selalu aku rayakan sendirian karena sepertinya memang hanya aku yang menganggap kami memiliki hubungan. Sehingga, yang merasakan sakit pun cuma aku. Hanya aku yang merasakan sedih setiap melihat bekas-bekas menyenangkan saat hubungan kami mengalami pasang. Dia… tidak menganggap itu menyenangkan. Dia… tidak melihat itu sebagai sebuah hubungan. Tidak ada yang pantas dirayakan, pun sepertinya tidak ada sakit yang dia rasakan.

Aku cuma ingat di setiap perayaan perpisahan, aku pasti marah. Aku pasti mengutuk dia dan berpikir bahwa dunia tidak adil. Aku pasti merasa jadi orang paling sakit hati karena telah ditinggal, padahal sebelumnya juga tidak pernah benar-benar ditemani.

Aku cuma tahu rasanya marah. Aku cuma tahu rasanya dikhianati—yah, seandainya ini bisa disebut sebagai pengkhianatan. Tapi marahku tidak mengubah apapun. Hubungan kami tetap pasang dan surut. Tetap mengalami pertemuan yang membahagiakan, lalu berpisah dan kesedihan pun melanda.

Tapi, tapi, tapi, sebelum perpisahan ini dirayakan, aku sudah bertekad untuk mengatakan apapun yang perlu aku katakan. Aku tidak ingin berpisah lagi dengan sisa perasaan yang membuatku ingin terus kembali padanya. Aku ingin benar-benar tidak memiliki hubungan lagi dengannya. Aku ingin benar-benar melepas hubungan yang sebenarnya tidak betul-betul aku genggam.

Aku ingin merelakan hubungan yang selalu terombang-ambing ini karena aku merasa di antara kami tidak ada yang pernah benar-benar sepakat untuk memiliki kapal yang kuat. Aku tidak bisa berenang. Setiap kali hubungan kami pasang dan surut dalam frekuensi yang teramat sering bagaikan ombak di laut, akulah yang pertama kali akan tenggelam.

Padahal aku ingin hidup. Walaupun aku harus berada di daratan dan tidak ke mana-mana. Sekalipun aku memang bisa pergi, aku akan memilih pergi bersama orang yang memastikan aku tidak akan oleng walaupun diterjang badai sekalipun. Bahkan bisa jadi aku tidak akan ke mana-mana karena orang itu mengajakku menetap di daratan. Yang tidak akan memintaku mengarungi hubungan pasang-surut yang membingungkan.

Maka dari itu, aku merayakan perpisahan ini. Sendirian.

Tidak apa-apa dia tidak ikut merayakan perpisahan, toh dari awal dia tidak pernah menganggap kami punya hubungan.

Mungkin memang aku sendiri yang perlu berpisah dari harapan-harapan kosong yang selama ini pernah mengembang. Mungkin memang aku sendiri yang perlu menjauh dari hubungan ini. Mumpung sedang surut. Mumpung masih bisa menepi tanpa repot-repot berenang.

Ya.

Aku akan merayakan perpisahan ini dengan bahagia.

Meskipun sendirian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Noktah

Aku kira film, ternyata kisahku. Sepanjang nonton film aku cuma berteriak “IYA! IYA! BEGITU, IYA!” setiap Marsha Timothy yang memerankan Mb...