Hei, maaf ya kalau aku “menyentuh” hidup kamu lagi. Karena aku pikir kamu tidak serius menanggapi permintaanku yang katamu tolol ini.
Iya, aku masih ingat bagaimana cara
kamu saat menertawakan sesuatu. Kedua matamu pasti melengkungkan bulan sabit,
bahkan kadang-kadang aku berkelakar kalau kedua matamu menghilang saat sedang
tergelak. Tapi tawamu yang kemarin sama sekali tidak membangkitkan selera
humorku, Tuan, karena yang membuatmu tertawa bukanlah sesuatu yang lucu.
Kamu lupa ya kalau aku paling tidak suka seriusku cuma dijadikan candaan?
Berarti tulisan ini untuk
mengingatkan kamu sekali lagi kalau dia yang sekarang selalu berada di
sampingmu itu harus pergi dari tempat ini. Aku sungguh tidak rela jika dia
ikut-ikutan menikmati matahari terbenam dari tempat duduk favoritku. Aku tidak
mau dia ikut berkenalan dengan kepiting-kepiting yang selalu malu dan menyaru
dengan pasir. Aku tidak mau. Jadi aku mohon, bawa dia pergi dari sini.
Dari awal kamu meletakkan hubungan
kita di tengah jalan pun aku sudah tidak rela.
Menemukan kamu sudah memiliki
gandengan baru padahal aku sedang terseok-seok membiasakan diri tanpa kamu pun,
aku rasanya hampir sekarat. Apalagi kamu malah mengajak dia memasuki dunia “kita”. Harus sehancur apalagi aku di hadapan kamu?
Sungguh, aku berjanji tidak akan
merecoki hubungan kamu. Tapi kamu pun juga harus beranjak dari sini. Biarkan
tempat ini menjadi bagian dari masa lalumu, seperti aku. Tidak perlu kamu
tengok lagi, karena masih ada aku yang betah berada di sini. Menyatukan
keping-keping memori yang seharusnya tidak akan kamu kunjungi lagi.
Kamu sudah bahagia dengan dia, maka
tempat ini biarlah menjadi jatah bahagiaku. Tidak perlu ada dia yang bisa saja
menodai kenangan-kenangan kita di sini.
Ya?
Kamu paham maksudku, ‘kan?
Kamu tahu kenapa aku egois di sini, ‘kan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar