Juli 09, 2022

Percaya

 

Photo by Jarosław Kwoczała on Unsplash

Bagiku, rasa percaya itu seperti judi. Kalau lagi beruntung, bisa beruntung banget. Kalau lagi sial, ya sial banget.

Kalau ketemu orang yang bisa dipercaya, maka keuntunganku berlipat ganda. Tapi kalau kebetulan bertemu orang yang ternyata tidak bisa menghargai rasa percaya, ya, untuk membangun kembali rasa percaya yang telah aku beri sebelumnya itu, aku butuh waktu. Dan usaha. Yang rasanya setengah mati, susah sekali.

Seandainya rasa percaya bisa dikonversi menjadi uang, maka dia betulan seperti judi.

Sayangnya bukan. Rasa percaya ini tidak dijual bebas, dan selalu berubah seiring sifat dan karakter manusia yang sangat dinamis. Hari ini bisa dipercaya, belum tentu besok. Hari ini bisa tertawa bersama, belum tentu lusa. Dan sialnya rasa percaya selalu beriringan dengan luka. Salah sedikit, bisa tergores. Salah banyak, maka akan berdarah-darah. Bahkan kalau ada manusia yang tidak pernah menganggap serius luka goresnya, maka ia bisa tahu-tahu merasakan sakit yang tak berkesudahan. Dan ketika menyadarinya, ternyata dia sudah terluka di banyak tempat.

Rasa percaya yang ia pegang erat-erat, ternyata sudah berlubang di banyak sisi. Dua atau tiga hari lagi bisa runtuh tak berbentuk.

Aku…

…pernah menjadi manusia itu.

Aku pernah memberikan rasa percaya pada orang lain, dalam waktu yang lama, sampai aku tidak sadar kalau ternyata aku pernah tergores. Beberapa kali. Tahu-tahu aku merasakan sakit yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Rasa sakit yang butuh waktu buatku percaya bahwa orang itu bisa melakukannya—bisa melukaiku, entah sengaja atau tidak.

Tapi lukanya terlanjur parah.

Rasa percaya yang aku beri, sudah rusak. Dan tentu butuh waktu lebih lama lagi untuk memperbaikinya menjadi utuh.

Karena selain membangun rasa percaya yang baru pada orang lain, aku harus mengembalikan rasa percayaku terhadap diri sendiri setelah sebelumnya sudah salah menilai orang untuk aku beri rasa percaya.

Rumit ya kalau kalah dalam judi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Noktah

Aku kira film, ternyata kisahku. Sepanjang nonton film aku cuma berteriak “IYA! IYA! BEGITU, IYA!” setiap Marsha Timothy yang memerankan Mb...