![]() |
| Photo by Jarosław Kwoczała on Unsplash |
Bagiku, rasa percaya itu seperti judi. Kalau lagi beruntung, bisa beruntung banget. Kalau lagi sial, ya sial banget.
Kalau ketemu orang yang bisa dipercaya, maka keuntunganku berlipat ganda. Tapi kalau kebetulan bertemu orang yang ternyata tidak bisa menghargai rasa percaya, ya, untuk membangun kembali rasa percaya yang telah aku beri sebelumnya itu, aku butuh waktu. Dan usaha. Yang rasanya setengah mati, susah sekali.
Seandainya
rasa percaya bisa dikonversi menjadi uang, maka dia betulan seperti judi.
Sayangnya
bukan. Rasa percaya ini tidak dijual bebas, dan selalu berubah seiring sifat
dan karakter manusia yang sangat dinamis. Hari ini bisa dipercaya, belum tentu
besok. Hari ini bisa tertawa bersama, belum tentu lusa. Dan sialnya rasa
percaya selalu beriringan dengan luka. Salah sedikit, bisa tergores. Salah
banyak, maka akan berdarah-darah. Bahkan kalau ada manusia yang tidak pernah
menganggap serius luka goresnya, maka ia bisa tahu-tahu merasakan sakit yang
tak berkesudahan. Dan ketika menyadarinya, ternyata dia sudah terluka di banyak
tempat.
Rasa
percaya yang ia pegang erat-erat, ternyata sudah berlubang di banyak sisi. Dua
atau tiga hari lagi bisa runtuh tak berbentuk.
Aku…
…pernah
menjadi manusia itu.
Aku pernah
memberikan rasa percaya pada orang lain, dalam waktu yang lama, sampai aku tidak
sadar kalau ternyata aku pernah tergores. Beberapa kali. Tahu-tahu aku
merasakan sakit yang belum pernah aku bayangkan sebelumnya. Rasa sakit yang
butuh waktu buatku percaya bahwa orang itu bisa melakukannya—bisa melukaiku,
entah sengaja atau tidak.
Tapi
lukanya terlanjur parah.
Rasa
percaya yang aku beri, sudah rusak. Dan tentu butuh waktu lebih lama lagi untuk
memperbaikinya menjadi utuh.
Karena
selain membangun rasa percaya yang baru pada orang lain, aku harus
mengembalikan rasa percayaku terhadap diri sendiri setelah sebelumnya sudah
salah menilai orang untuk aku beri rasa percaya.
Rumit ya
kalau kalah dalam judi?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar