![]() |
| Photo by Ranurte on Unsplash |
“Hai,” kamu menyapa pendek tapi efeknya bagiku bagai terkena deburan ombak yang bisa membuatku hanyut lalu tenggelam.
Kamu memakai kemeja rapi, celana jeans, dan sepatu yang sepertinya baru
dicuci kemarin. Kalau boleh aku menilai, kamu juga terlihat segar seperti habis
mandi. Aroma parfum kamu—walaupun aku yakin sudah berganti dari saat kita masih
bersama—masih sama-sama bisa diterima oleh hidungku dengan baik.
Kamu kelihatan bahagia sekarang. Rona sedihmu sudah pergi, atau mungkin kamu sekarang sudah menemukan tambatan hati yang baru lagi.
Tapi aku tidak peduli. Bagiku, kamu kembali bahagia itu sudah cukup. Karena aku tahu bagaimana rasanya terpuruk. Aku tahu bagaimana rasanya terluka tapi orang yang membuatku terluka justru sedang berbahagia seolah sedang mengolokku yang baru saja jatuh ke jurang paling dalam.
Aku tahu rasanya. Jadi melihatmu kembali bisa tersenyum, bahkan menyapaku lebih dulu, bagiku sudah cukup.
Aku tidak tahu apakah sapaanmu ini untuk menepati permintaanku waktu itu—untuk menyapaku lebih dulu, atau ini memang keahlianmu. Tapi jujur, aku senang. Aku merasa ada satu beban berat terangkat dan hatiku menjadi lebih ringan.
Aku bukan perempuan yang pandai
berkomunikasi. Jadi, ketika ada orang yang berusaha menyambung lagi
komunikasi yang sempat terputus, aku suka. Mungkin besok-besok aku bisa
belajar dari kamu, bagaimana caranya meluruhkan kecanggungan. Bagaimana caranya
membangun reruntuhan puing dari patah hati, kemudian keluar dari sana, dan
tetap bisa berjalan-jalan dengan biasa. Seolah reruntuhan kemarin bukan dari
sisa perang.
Aku iri dengan kemampuanmu satu ini.
Tapi aku yakin kamu secara sukarela akan mengajariku tentang keahlianmu ini.
Iya, pasti aku tidak akan seahli kamu juga. Tapi tidak apa-apa, daripada tidak
bisa sama sekali.
Cuma, aku tidak tahu. Apakah kembali
membangun komunikasi denganmu bukan berarti kembali menyeretku masuk jurang?
Apakah aku sudah mempersiapkan diri seandainya itu memang terjadi lagi?
Karena mau bagaimanapun juga, meskipun sekarang kamu membuatku senyum-senyum, kamu juga pernah membuatku hancur sehancur-hancurnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar