Juni 04, 2022

Sapa

Photo by Ranurte on Unsplash

“Hai,” kamu menyapa pendek tapi efeknya bagiku bagai terkena deburan ombak yang bisa membuatku hanyut lalu tenggelam.

Kamu memakai kemeja rapi, celana jeans, dan sepatu yang sepertinya baru dicuci kemarin. Kalau boleh aku menilai, kamu juga terlihat segar seperti habis mandi. Aroma parfum kamu—walaupun aku yakin sudah berganti dari saat kita masih bersama—masih sama-sama bisa diterima oleh hidungku dengan baik.

Kamu kelihatan bahagia sekarang. Rona sedihmu sudah pergi, atau mungkin kamu sekarang sudah menemukan tambatan hati yang baru lagi.

Tapi aku tidak peduli. Bagiku, kamu kembali bahagia itu sudah cukup. Karena aku tahu bagaimana rasanya terpuruk. Aku tahu bagaimana rasanya terluka tapi orang yang membuatku terluka justru sedang berbahagia seolah sedang mengolokku yang baru saja jatuh ke jurang paling dalam.           

Aku tahu rasanya. Jadi melihatmu kembali bisa tersenyum, bahkan menyapaku lebih dulu, bagiku sudah cukup.

Aku tidak tahu apakah sapaanmu ini untuk menepati permintaanku waktu itu—untuk menyapaku lebih dulu, atau ini memang keahlianmu. Tapi jujur, aku senang. Aku merasa ada satu beban berat terangkat dan hatiku menjadi lebih ringan.

Aku bukan perempuan yang pandai berkomunikasi. Jadi, ketika ada orang yang berusaha menyambung lagi komunikasi yang sempat terputus, aku suka. Mungkin besok-besok aku bisa belajar dari kamu, bagaimana caranya meluruhkan kecanggungan. Bagaimana caranya membangun reruntuhan puing dari patah hati, kemudian keluar dari sana, dan tetap bisa berjalan-jalan dengan biasa. Seolah reruntuhan kemarin bukan dari sisa perang.

Aku iri dengan kemampuanmu satu ini. Tapi aku yakin kamu secara sukarela akan mengajariku tentang keahlianmu ini. Iya, pasti aku tidak akan seahli kamu juga. Tapi tidak apa-apa, daripada tidak bisa sama sekali.

Cuma, aku tidak tahu. Apakah kembali membangun komunikasi denganmu bukan berarti kembali menyeretku masuk jurang? Apakah aku sudah mempersiapkan diri seandainya itu memang terjadi lagi?

Karena mau bagaimanapun juga, meskipun sekarang kamu membuatku senyum-senyum, kamu juga pernah membuatku hancur sehancur-hancurnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Noktah

Aku kira film, ternyata kisahku. Sepanjang nonton film aku cuma berteriak “IYA! IYA! BEGITU, IYA!” setiap Marsha Timothy yang memerankan Mb...