Tempat itu masih sama. Yang beda adalah hubungan kita.
Kalau dulu kita ke sana selalu janji dulu biar bisa sama-sama, kini bahkan aku langsung balik arah seandainya melihat kamu dari kejauhan di tempat itu.
Memang menyenangkan ke sana waktu matahari terbenam. Kadang ada turis baru pulang berselancar, bapak-bapak nelayan yang bosan melaut, kepiting-kepiting berlarian di pasir, dan semilir angin laut yang menerpa wajah.
Sayangnya, di setiap detail hal yang aku rindukan, ada kamu di sela-selanya. Cerita-cerita kamu, aroma parfum kamu, tawa kamu, senyum kamu, lelucon garing kamu, tingkah laku kamu, pokoknya semua tentang kamu yang ingin aku hapus cepat-cepat dari rongga kepala.
Entahlah, sejak kapan aku jadi kekanak-kanakan seperti ini sampai menghindari pertemuan dengan kamu. Apakah aku sedang ingin menunjukkan bahwa aku dan kamu berpisah baik-baik, meskipun kepalaku dipenuhi oleh ribuan pertanyaan kenapa aku dan kamu harus berjalan di tempat yang tidak sama? Atau karena aku masih tidak terima ketika kamu bilang ingin pisah baik-baik?
Bukankah yang namanya baik-baik
justru tidak mungkin berpisah ya? Ya, ‘kan?
Aku tidak tahu apakah ini yang
disebut masih cemburu padahal sudah tidak berada dalam status hubungan apa-apa
atau hanya perasaan kesal karena kamu membawa seseorang baru di tempat yang
menyimpan banyak sekali kenangan tentang aku dan kamu. Ingin sekali aku menamai
tempat itu sebagai “Tempat Kita”, saksi bisu antara semestaku dan semestamu
yang pernah berpadu sama-sama, sebelum kita saling beradu kemudian menempuh
jalan yang berbeda.
Tempat itu masih sama.
Caraku dengan caramu ke sanalah yang
tidak lagi sama. Aku ke sana sendirian, sedangkan kamu pun juga bukan lagi aku
yang mendampingi.
Kira-kira, semesta kecil yang ada di
sana, bertanya-tanya atau tidak ya, siapa sosok baru yang sekarang kamu ajak
memasuki duniamu itu?—seperti pertanyaan-pertanyaan yang jadi sering muncul di
kepalaku akhir-akhir ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar