Oktober 21, 2022

August, but it's October anyway.

Edited on Canva


Aku punya bulan favorit.

Agustus.

Satu, karena aku lahir di bulan Agustus.

Dua, karena banyak agenda yang diadakan di bulan Agustus dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan republik ini.

Dan, tiga, ada banyak kamu di bulan Agustus setiap tahunnya, yang selalu aku ingat.

 

Mungkin memang jiwa-jiwa muda suka keramaian. Aku ingat pernah berjalan sejauh satu kilometer dari tempat parkir untuk menemukan spot menarik demi melihat iring-iringan pawai.

Aku ingat beberapa turnamen olahraga yang diadakan, dan aku rela berdesakan demi menonton kamu yang bertanding.

Aku ingat kita pernah bertemu kamu di alun-alun kota tanpa sengaja dan akhirnya kita nonton pertunjukan sama-sama.

Aku juga ingat, di bulan Agustus beberapa tahun lalu, aku menyadari kalau ternyata kamu tidak menyimpan perasaan yang sama sepertiku, yang membuatku akhirnya pernah membenci bulan Agustus.

Ironis ya? Bulan yang sebelumnya selalu aku favoritkan tiba-tiba aku benci karena kamu, yang bahkan tidak lahir di bulan Agustus.

 

Ini bukan salah kamu.

Ya, dulu itu memang salah kamu. Kamu memberiku sinyal yang salah, dan aku mengenangnya sebagai tonggak yang menandai bahwa aku tidak boleh disakiti lagi oleh hal yang sama. Kamu.

 

Sekarang sudah bukan salah kamu.

Ini sudah menjadi urusanku. Tentang perasaanku. Tentang apa yang harus aku lakukan untuk berdamai dengan bulan yang sudah dari dulu menjadi favoritku.

 

Kamu diam saja di situ. Tidak perlu ke mana-mana.

Ini tentangku. Dan bulan Agustus.

Bulan favoritku.

Bulan kelahiranku.

Dan bulan di mana aku pernah terlalu berani menyebut “kita”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Noktah

Aku kira film, ternyata kisahku. Sepanjang nonton film aku cuma berteriak “IYA! IYA! BEGITU, IYA!” setiap Marsha Timothy yang memerankan Mb...