![]() |
| Edited on Canva |
Aku punya bulan favorit.
Agustus.
Satu, karena aku lahir di bulan
Agustus.
Dua, karena banyak agenda yang
diadakan di bulan Agustus dalam rangka memperingati hari ulang tahun
kemerdekaan republik ini.
Dan, tiga, ada banyak kamu di bulan Agustus setiap tahunnya, yang selalu aku ingat.
Mungkin
memang jiwa-jiwa muda suka keramaian. Aku ingat pernah berjalan sejauh satu
kilometer dari tempat parkir untuk menemukan spot menarik demi melihat iring-iringan pawai.
Aku ingat beberapa
turnamen olahraga yang diadakan, dan aku rela berdesakan demi menonton kamu
yang bertanding.
Aku ingat
kita pernah bertemu kamu di alun-alun kota tanpa sengaja dan akhirnya kita nonton
pertunjukan sama-sama.
Aku juga
ingat, di bulan Agustus beberapa tahun lalu, aku menyadari kalau ternyata kamu
tidak menyimpan perasaan yang sama sepertiku, yang membuatku akhirnya pernah
membenci bulan Agustus.
Ironis ya?
Bulan yang sebelumnya selalu aku favoritkan tiba-tiba aku benci karena kamu,
yang bahkan tidak lahir di bulan Agustus.
Ini bukan
salah kamu.
Ya, dulu
itu memang salah kamu. Kamu memberiku sinyal yang salah, dan aku mengenangnya
sebagai tonggak yang menandai bahwa aku tidak boleh disakiti lagi oleh hal yang
sama. Kamu.
Sekarang
sudah bukan salah kamu.
Ini sudah
menjadi urusanku. Tentang perasaanku. Tentang apa yang harus aku lakukan untuk
berdamai dengan bulan yang sudah dari dulu menjadi favoritku.
Kamu diam
saja di situ. Tidak perlu ke mana-mana.
Ini
tentangku. Dan bulan Agustus.
Bulan
favoritku.
Bulan
kelahiranku.
Dan bulan di
mana aku pernah terlalu berani menyebut “kita”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar