![]() |
| Edited on Canva |
Hapus,
kubilang.
Kubilang kepada diriku
sendiri, hapus.
Sudah dari lama aku ingin menghapusnya, tapi dia selalu datang lagi dan niatku langsung berantakan. Bahkan apa yang sudah seharusnya hilang, jadi muncul kembali kemudian menguasai pikiran dan isi kepalaku. Begitu terus, berkali-kali. Bertahun-tahun.
Hapus.
Dia sudah tidak seharusnya di
sini. Jika dulu aku masih mengharapkan dia benar-benar datang untukku, bukan
sekadar mampir lalu pamit lagi, sekarang harapan itu sudah tidak ada. Tidak ada
yang bisa diupayakan lagi. Dia tidak akan pernah datang. Dia tidak akan benar-benar
ingin tinggal. Sudah dari awal dia memang tidak pernah berniat menetap.
Hapus,
semuanya. Percakapan-percakapan tolol dengannya. Foto-foto
yang pernah tersimpan. Lelucon-lelucon yang pernah terlontar. Semuanya hapus
karena sudah tidak berguna. Hal-hal bodoh itu hanya akan merusak memori dan
menghalangi memori baru tercipta. Jadi tolong, hapus. Semuanya hapus. Sampai bersih. Hingga tidak ada kesempatan
baginya untuk bertamu atau say hi lalu
kabur seperti kemarin-kemarin.
Hapus.
Dia sudah tidak berhak di sini. Harapan untuknya sudah
musnah. Jadi, mumpung dia belum datang
lagi dan membuat segalanya pecah berkeping, hapus.
Semuanya. Jangan ada yang tersisa.
Kalau dia datang lagi, ya
tidak apa-apa. Masih ada pertemanan yang
akan menyambutnya. Walaupun tidak mungkin seramah dulu dengan mempersilakannya
duduk dan menawarkan tempat tinggal. Kini hanya akan tertawa sekadarnya,
berbicara seperlunya, tanpa pernah benar-benar menginginkannya tinggal lebih lama.
Kenangan-kenangan itu sudah dihapus dan sebaiknya tidak diungkit lagi. Kalau
dia ingin mengungkit, usir. Dia boleh
diusir. Sakit yang dia akibatkan
tidak sebanding dengan tawa yang dia beri. Sakitnya jauh lebih perih dan sulit
untuk pulih.
Jadi, hapus. Hapus semuanya. Jangan sampai ada yang tertinggal. Jangan
sampai dia kembali membawa harapan yang sudah lama dia abaikan.
Pergi.
Usir.
Hapus,
kubilang.
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar