September 05, 2022

Hapus

 

Edited on Canva

Hapus, kubilang.

Kubilang kepada diriku sendiri, hapus.

Sudah dari lama aku ingin menghapusnya, tapi dia selalu datang lagi dan niatku langsung berantakan. Bahkan apa yang sudah seharusnya hilang, jadi muncul kembali kemudian menguasai pikiran dan isi kepalaku. Begitu terus, berkali-kali. Bertahun-tahun.


Hapus.

Dia sudah tidak seharusnya di sini. Jika dulu aku masih mengharapkan dia benar-benar datang untukku, bukan sekadar mampir lalu pamit lagi, sekarang harapan itu sudah tidak ada. Tidak ada yang bisa diupayakan lagi. Dia tidak akan pernah datang. Dia tidak akan benar-benar ingin tinggal. Sudah dari awal dia memang tidak pernah berniat menetap.

Hapus, semuanya. Percakapan-percakapan tolol dengannya. Foto-foto yang pernah tersimpan. Lelucon-lelucon yang pernah terlontar. Semuanya hapus karena sudah tidak berguna. Hal-hal bodoh itu hanya akan merusak memori dan menghalangi memori baru tercipta. Jadi tolong, hapus. Semuanya hapus. Sampai bersih. Hingga tidak ada kesempatan baginya untuk bertamu atau say hi lalu kabur seperti kemarin-kemarin.


Hapus. Dia sudah tidak berhak di sini. Harapan untuknya sudah musnah. Jadi, mumpung dia belum datang lagi dan membuat segalanya pecah berkeping, hapus. Semuanya. Jangan ada yang tersisa.

Kalau dia datang lagi, ya tidak apa-apa. Masih ada pertemanan yang akan menyambutnya. Walaupun tidak mungkin seramah dulu dengan mempersilakannya duduk dan menawarkan tempat tinggal. Kini hanya akan tertawa sekadarnya, berbicara seperlunya, tanpa pernah benar-benar menginginkannya tinggal lebih lama. Kenangan-kenangan itu sudah dihapus dan sebaiknya tidak diungkit lagi. Kalau dia ingin mengungkit, usir. Dia boleh diusir. Sakit yang dia akibatkan tidak sebanding dengan tawa yang dia beri. Sakitnya jauh lebih perih dan sulit untuk pulih.

Jadi, hapus. Hapus semuanya. Jangan sampai ada yang tertinggal. Jangan sampai dia kembali membawa harapan yang sudah lama dia abaikan.


Pergi.

Usir.


Hapus, kubilang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Noktah

Aku kira film, ternyata kisahku. Sepanjang nonton film aku cuma berteriak “IYA! IYA! BEGITU, IYA!” setiap Marsha Timothy yang memerankan Mb...